Secret Admirer
09.02
Ketika hari itu tiba, akankah tangannya terbuka dan menerima sebuah benda berbungkus sederhana ini?
Benda itu masih kusimpan dalam angan-angan. Entah itu akan menjadi nyata jika tidak ku beli di toko miniatur. Melihat masa depan dan wajahku yang tidak begitu cantik, membuat imajinasiku luntur oleh sekejap kedipan mata di depan cermin. Dulu aku selalu bermimpi sedikitnya fotoku menjadi hal penting dalam buku perpisahan milikmu. Namun, menjadi temanmu saja terasa sulit. Cermin oh.. cermin.. tak bisakah aku terlihat sedikit mancung, berkulit putih, bermata sayu, berwajah tirus, dengan bibir merah satu detik saja?
Rasa pesimis yang selalu menghantui seorang secret admirer. Jelas saja, langkahnya sebagai secret admirer saja sudah menunjukkan ketidak-percayadirian. Jika ia mengaku percaya diri, lalu mengapa selama ini dirinya hanya menjadi secret admirer yang selalu berada di belakang dan hanya memandangi punggung seseorang?
Ya, itu aku, seorang secret admirer yang sedang bercermin malam ini. Cermin, apa yang harus aku berikan dihari itu? Haruskah aku terlihat ceria mengenakan pakaian terbaik seolah-olah dirinya akan tertarik? Atau berpura-pura terjebak dikeramaian, tidak tau apa-apa, membawa genggaman hampa, dan hanya mengucap basa-basi lalu pergi dan berlalu dari keramaian itu?
Lagi pula, apa kesan yang akan tertinggal dari sebuah benda berbugkus sederhana ini? 2-3 hari kemudian mungkin benda itu hanya akan menjadi pajangan di kamarnya jika ia menyukainya, atau menjadi pajangan di kamar orang lain jika ia tidak tertarik untuk menyimpannya. Mungkin ia akan dengan senang hati memberikannya pada orang lain. Mungkin.
Tapi, semakin terhitung jelas ketidak-percayadirianku jika memberi saja tidak berani. Baiklah, kita buat semua itu terlihat sederhana. Hanya datang, menghampirinya, memberikan apa yang harus kuberikan, dan mengucapkan selamat. Tanpa harus berjabat tangan, tanpa memandang ke arah wajahnya, menunduk dan melihat kakinya saja sudah cukup. Melihat kakinya dari depan pun sudah cukup membuktikan suatu perkembangan. Ya, yang biasa kulihat hanya punggungnya saja, hari itu akan kulihat kakinya dari depan. (menunduk)
1 komentar
Ketidakberanianmu itu msih lbh dikit drpda ketidakberanianku...
BalasHapusBuktinya kau msh bsa memberikan sesuatu mski dgn agak paksa...sdngkan sya,sdahlah tak ada harapan lagi...