Cinta, Keran air, dan Kentut.

19.16

Sebelum baca, ketahui saja nulis ini dibawah pengaruh si "aku". Jangan heran kalau catatannya lebay menggelikan. Tentang cinta intinya. -_-

Good morning, apalagi yang bisa saya lakukan dipagi hari selain mendengar musik dan mulai mengerjakan tugas yang melelahkan. Buka buku.. Baca dan pahami.. 5 menit kemudian, buku itu berubah dari yg semula membuka menjadi menutup. Berapa besar Gaya (F) yang saya berikan terhadap buku itu? Jika diketahui massa buku (m) = 1 kg. Yah.. dan cuma fisika doang yang hal sekecil itu diperhitungkan. Perubahan dari yang terbuka menjadi tertutup terhadap buku itu disebabkan ketidakpahaman atas materi yang telah saya baca sehingga menyebabkan saya merasa malas untuk mengerjakannya. Yaudah saya tutup aja bukunya! Ada gak rumus fisika yang bisa ngitung besar kemalasan saya dalam mengerjakan tugas fisika?


Kembali pada cerita tentang pagi saya yang membosankan. Ditengah kebosanan itu, saya melihat jendela yang seakan berbisik.. “ayo lihat keluar..”. Kaki saya menuntun saya menuju jendela itu. Perlahan tangan saya mulai membukanya. Jreng.. Ternyata keran air di depan rumah belum ditutup. Bergegas saya pergi keluar dan menutup keran dengan kencang. Tapi, entah kenapa niat saya untuk menutup keran, berbalik menjadi membuka keran semakin besar dan bermain air (masa kecil kurang bahagia). Air itu mengalir.. Ada yang mengalir ke tanah, ke rumput, ada juga yang menghanyutkan semut-semut kecil.  Tunggu, sepintas kalimat “niat saya untuk menutup keran, berbalik menjadi membuka keran semakin besar” sepertinya punya makna. 




Keran itu ibarat hati. Semula yang berniat untuk menutup hati pada seseorang, berbalik menjadi membukanya lebih besar. (Membuka hati? Sama siapa?) 
Dan kalimat “Air itu mengalir.. Ada yang mengalir ke tanah, ke tanaman, ada juga yang menghanyutkan semut-semut kecil”... Apakah saat saya membuka hati pada seseorang, hati itu akan diterimanya dengan baik? atau sebaliknya? Seperti halnya air yang keluar dari keran, air itu mengalir ke dalam tanah. Setelah meresap dalam tanah, mungkin air itu menjadi sumber air yg bersih. Atau saat mengalir ke tanaman, air itu akan menumbuh--suburkannya. Tapi bagaimana jika air itu menghanyutkan semut-semut kecil? Seperti hati ini, saat mengalirkannya pada hati seseorang, apa yang akan terjadi? Hal baikkah atau hal burukkah? 




Selanjutnya saya gak akan certain, apakah pada akhirnya saya menutup keran atau membiarkannya tetap terbuka. Itu akan menjadi rahasia, meski sekedar menutup dan membuka keran :) (read: hati saya)

Hari semakin siang, pagi yang membosankan berganti menjadi siang yang membosankan. Tiba-tiba.. “ting..tong” bel berbunyi. 
“Assalamu’alaikum..” 
Tak salah lagi, suara itu sudah tidak asing bagi telinga saya. Yap, siap-siap jadi pengasuh.“Titip dede ya.. blablabla... “ Kalimat yang dari tiap katanya hingga intonasinya sudah saya hafal.




And.... This time for ngasuh!


Bayi yang saya asuh bukan sekedar bayi. Melainkan bayi super yang memiliki banyak kekuatan tak terduga. Bayi yang lebih ahli bela diri dibanding Iko Uwais. Siang itu, ada sesuatu yang ganjil dari bayinya. Bayi itu terdiam dan duduk manis. Berbeda dengan biasanya yang selalu lincah.. lebih lincah dari FBI yang sedang memburu teroris. Apakah dibalik diam itu, dia sedang merumuskan sebuah rencana? Ternyata benar! 

Bayi itu memang memasang jebakan. Dibalik duduk manisnya, tersimpan bom yang disembunyikan di dalam popok (you know what i mean). Pantesan dari tadi itu kecium bebauan semacam kentut dan kuning-kuning mencurigakan di lantai. Saya kira itu hanya ilusi di siang hari.




Sambil mencuci celana si bayi itu, sekaligus bayinya saya cuci di mesin cuci juga, saya jadi teringat kembali pada permasalahan hati. Kali ini merambat pada apa dan bagaimana itu cinta? 

Tunggu, bayi dan kentutnya itu.... ternyata ada sebuah filosofi cinta dibaliknya. (Caileee.. filosofi) 

Ya, kentut itu seperti cinta. Kentut tak dapat dilihat, tapi hanya dapat dirasakan (baunya). Saya yang semula mengira bahwa bau kentut dan noda kuning itu hanya ilusi. Tapi, setelah ada pembuktian berupa bom dibalik popok, baru tersadari bahwa sumber bebauan itu dari si bayi yang melakukan proses defekasi. 

Sama seperti seseorang yang sedang terkena sindrom “diam-diam suka”, maka definisi cintanya dapat diperumpakanan seperti kentut dan bayi yang duduk manis. Seseorang yang menyukai orang lain diam-diam, baru ketauan setelah ada pembuktian berupa bom dibalik popok, eh maksudnya setelah pembuktian adanya cinta dibalik diamnya seseorang itu. Seseorang itu hanya diam layaknya bayi yang duduk manis, tapi dibalik diamnya itu pula, dia mengirim isyarat berupa sinyal cinta pada orang yang ia sukai. (Bhahak, geli ya baca "isyarat cinta")

Seperti bayi yang pengen ee, mengirim isyarat berupa kentut. Saat orang yang ia sukai (si doi) mulai merasa diperhatikan, muncul pertanyaan “Siapa dan kenapa ada perhatian yang gak biasa?”. Sama halnya seperti saat saya mencium kentut bayi itu, awalnya saya gak tau sumber bau itu dari mana dan mengapa ada bau itu. Cuma menduga-duga aj sumbernya dari si dia. Si bayi maksudnya.



Kemudian, seseorang yang terus-menerus mengirim sinyal cinta pada orang yang ia sukai, akan timbul rasa ingin mengungkapkan. Seperti kentut yang secara terus-menerus menyebabkan mules, pasti timbul rasa ingin mengeluarkan hasil defekasinya. Persis kan? Ya.. Hal sesepele itu, mengandung makna yang luar biasa tentang cinta dalam diam. Hidup itu emang penuh arti. Gak heran sama fisika yang ember bocor aja diperhitungkan berapa ketinggian masimum, berapa volume ember, berapa masa jenisnya, dan yaaaa banyak lagi. Jangan pernah menganggap hal kecil itu remeh, karna ternyata remeh itu sangat besar bagi si sireum.

Kesimpulan dari cerita saya yang ngawur ini adalah : 


bahwa mencintai itu mudah, tapi memprediksikan apa yang akan terjadi setelah mencintai, itulah yang membuat keraguan dalam cinta. Tapi, apa salahnya menaruh hanya sepesebagian hati pada seseorang? Jika pada akhirnya orang itu mengecewakan, kita masih memiliki sisa hati yang utuh. 

Mohon maaf soalnya di catatan saya ini bahasanya dari yang baku, gak baku, yg jorok, nyampe yang ilmiah dicampur menjadi satu. Dan sejujurnya geli sih bahas cinta, cinta, dan cinta mulu. Tapi gak bisa ngelak, kalo cinta itu emang punya banyak keunikan.

Keterangan :

-          Intonasi adalah tinggi rendahnya nada dalam pelafalan kalimat. 
-          Defekasi adalah proses pengeluaran sisa pencernaan berupa feses.
-          Remeh dalam bahasa sunda, remeh adalah butiran nasi yang jatuh karna cara makan kita yang kurang rapi dan teratur.

-     Sireum mah artinya “semut” (bahasa sunda).
-          Hipotesis adalah dugaan sementara berdasarkan teori yang didapat. Ini merupakan salah satu langkah dalam suatu penelitian untuk dapat menemukan kesimpulan.

You Might Also Like

2 komentar

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.