Hujan sore itu melankolis

22.56




Hujan mulai reda, aku masih bertahan memanjakan diri, masih malas untuk memulai sebuah perjalanan yang seharusnya pergi sejak tadi.
"ma, aku pulang telat, ga usah dijemput, naik angkot aja"
"yaudah hati-hati, jangan lupa pake jaket dan jangan pulang kemaleman"

Kemudian kututup telpon dan bergegas pulang. Entahlah, tempat ini sangat ku benci, tapi untuk kondisi seperti ini, sepi, sendirian, tak banyak pekerjaan, cukup lumayan juga untuk sekedar menikmati sore yang sejuk. 

After the rain, jadi salah satu list lagu yang aku dengarkan saat ini. Musisi kamar yang pandai ini telah membuatku jatuh cinta pada alunan gitar akustik yang dengan piawai dimainkannya, berpadu suara renyah, ringan didengarkan, ya itulah sosok Adhitia Sofyan dimataku. 

Kembali aku melangkahkan kaki, menuruni setiap anak tangga menuju pintu gerbang. Tidak.. tidak.. jangan bayangkan aku seorang mahasiswa, atau siswa SMA yang hendak pulang. Aku seorang karyawan di sebuah perusahaan. Tanpa menyapa satpam yang sejak tadi memandangiku dari jauh, pura-pura mencari sebuah benda dari dalam tas, seolah benda itu teramat penting hingga mengabaikan satpam yang seharusnya aku sapa. Biarlah, hari itu aku malas mengobrol dengan siapapun.

Berdiri di tepian jalan, menengok ke sebelah kanan, menatap jauh dengan tajam, ku harap angkutan umum segera datang. Tak lama, ia datang. Bukan angkutan umum, tapi hujan. Rintiknya perlahan mulai rapat membasahi aspal. Sial, aku lupa tak membawa payung. Kembali ke pintu gerbang, terpaksa aku harus menyapa dan membuka sedikit obrolan dengannya. Dengan satpam itu.

"Duh pak, hujan lagi.."
"Ga bawa payung neng?"
"Iya pak, katanya di kantor ada ya? Saya mau pinjem hehe"
"Gatau, coba cari aja diatas.."

Ya, menaiki anak tangga lagi, bertemu dengan ruangan yang aku benci lagi. Untuk kali ini tak sebenci biasanya, atau aku ingin sebentar lebih lama menikmati hujan disini. Hati, apalagi yang selalu jadi ingatan saat sendirian meratapi hujan seperti ini. Aku masih saja belum berubah, tentang perasaan itu, sebenarnya aku merindukannya. Secara gamlang, jujur saja aku berharap dapat bertemu dengannya selepas hujan ini reda. 

Hujan, tak kusangka semakin deras. Motor tua milik satpam depan masih bertengger di halaman parkir. Sama-sama menikmati hujan, kukira begitu. Biarlah, aku bisa memiliki waktu lebih lama, menikmati tempat yang biasanya kubenci ini. Melihat handphone, bahkan nomornya saja masih kusimpan. Entah untuk apa. Namanya di kontakku seperti rumah yang tak berpenghuni, sejak saat itu jelas saja untuk apa ia mengabariku lagi. Setiap pesan yang masuk, ya aku tau itu pasti bukan darinya. Sepi rasanya, untuk apa aku memiliki handphone jika kini fungsinya bukan untuk mengirim atau membalas pesan lagi.
Ku pikir, benda mati ini telah beralih fungsi menjadi benda yang bila kulihat menyesakan dada, berharap satu pesan masuk saja darinya, tapi nyatanya tak pernah ada.

Aku mulai bosan mendengarkan Adhitia Sofyan yang terus berulang kali menyanyikan lagu yang itu-itu saja. Memang aku saja yang malas memutarkan lagu lain. Pause, kemudian kulepas headset yang menggantung di telinga. Merenung, terdiam, bisu memandang hujan dari balik jendela. Oh mengapa tak sejak tadi kudengarkan nyanyian hujan. Gemuruh yang indah, hanyut, menusuk, mencari sisi lemahku. Tuhan, ini terlalu melankolis, begini saja aku meneteskan air mata. 

Tadi siang kubaca sebuah cerpen, mengisahkan hujan di bulan desember yang memberi banyak cerita bagi sang penulis. Entah siapa penulis itu, tapi cerpennya membuatku teringat padanya. Perempuan yang memendam perasaan untuk seseorang, seseorang yang tak pernah tau tentang rasa, ada apa dibalik senyum dan sapa, memang perempuan itu tak pernah mengutarakan isi hatinya. Wajar saja pria yang ia sukai tak begitu menghiraukannya. Mungkin alur cerita dari cerpen itu berbeda dengan cerita hidupku. Tapi apapun itu, asalkan menyayat hati, aku jadi teringat padamu. Meskipun luka yang tak lekas sembuh ini bukan tanganmu yang menorehkan pisau, tapi diriku sendiri yang menyakiti, membuat yang semula cinta itu indah, berbalik arah seperti boomerang. Aku sendiri yang tersakiti oleh ulahku. Menyukaimu terlalu dalam.

Hujan mulai bosan, rintiknya mulai terhenti. Satpam depan melambaikan tangan, katanya hari sudah mulai gelap, cepat turun lalu pulang.

"Ma, ternyata ga ada angkot terus. Boleh deh minta jemput, depan indomaret ya."

Mood yang tak karuan, hati yang masih menyimpan rindu, biarlah tertiup angin seiring perjalananku menuju rumah. Sore itu, bolehkah aku bertanya pada hujan, ia datang ia reda. Apakah rindu ini seperti hujan pula? Terkadang datang, deras tak tertahankan. Terkadang tak mengingatnya, mungkin karna terlalu sibuk dengan pekerjaan dan semacamnya. Ah sudahlah.. ku akhiri catatan ini sebelum hujan datang lagi, ya, maksudku, rindu yang tak tertahankan itu datang lagi.








You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.