Maaf dan Terimakasih. (Judulnya mainsteam amat ya? Gapapalah, minat mah baca. Gaminat ya antepin)

17.24

Kurasa maaf dan terimakasih bisa jadi kata ganti untuk selamat tinggal.

Ibumu begitu hebat mampu melahirkanmu ke dunia ini, kemudian kita bertemu dan saling mengenal. Tuhan maha pembuat skenario yang sempurna, mengizinkanmu pernah jadi bagian dari proses hidupku.

Maaf dan terimakasih..

Maaf dan terimakasih..

Suatu hari ku katakan maaf.
Maaf atas jamuan hatiku yang memaksamu singgah dan mampir ke dalam gubug sederhana yang ku sebut hati. Maafkan atas ruang tamu hatiku ini yang semerawut dan apa adanya, yang barangkali tak layak disimpan di baris depan. Hatiku tak suka mempercantik ruang tamunya. Pun ruangan lain, hanya kosong dan hampa, itulah keadaannya.

Banyak orang pernah kujamu, atau dengan sengaja datang berkunjung. Tapi hanya singgah dengan tak betah. Mudah pergi tanpa kembali.
Mereka bilang hatiku tak ramah, tak menyuguhkan minum padahal mereka haus. Tak menyuguhkan makanan padahal mereka lapar.


Kepada mereka kubilang maaf saja. Bukannya hatiku angkuh atau tak ramah. Hanya saja hatiku tak gegabah. Andai mereka sedikit bersabar dan menunggu dengan teratur, hatiku sedang menyiapkan hidangan terbaik tanpa kalian tau. Hargailah sebuah proses, hidangan itu tak segampangan pizza delivery atau serupa seblak yang bisa dibeli kapan/dimana saja, tapi hatiku membuatnya sendiri penuh arti penuh simpati. Hidangan itu kumaksud ialah perasaan tulus, menyukai dan 
(Hidangan : cinta maksudnya)

Setiap hidangan itu hendak kusajikan, kalian yang tak sabaran cepat sekali pergi tanpa pamit. Membuat hatiku kecewa padahal susah payah hidangan itu hatiku buat.


Kemudian kamu, satu pengunjung yang sedikit berbeda. Aku tak tau, aku yang menjamumu atau kamu yang sengaja berkunjung. Tiba-tiba saja hati membawa kabar, kamu sudah tiba di ruang tamu. Ya, ruang tamu. Kamu masih ku anggap hanya sebatas tamu di hatiku.
Ku katakan pada hati, sambut saja ia. Tapi jangan dulu buat hidangan yang indah. Sebentar lagi pasti ia pergi. Takan lagi kembali.
Benar sekali, tak lama kamu pergi. Berhari-hari tak kunjung kembali. Hingga suatu pagi kamu datang dan menyapa. Berkunjung lagi, tapi pergi lagi. Tak pernah berlama-lama dalam hati.
Bocah yang cuma bercanda saja, pikirku begitu.


Semakin lama, hatiku semakin tak asing dengan sapaanmu, kunjungan sebentarmu, yang sering kamu lakukan tanpa meminta imbalan minum maupun makan.
Melihatmu yang dengan polos datang dan pergi tapi tak mengecewakan. Sesekali hati mencoba beri secicip hidangan. Ya secicip saja. Kamu menerimanya dengan biasa saja tapi dihabiskan sampai piringnya bersih. Tak meminta tambahan, juga tak berterima kasih. Tapi hati cukup tersipu saat melihatmu melahap sedikit hidangan itu dengan semangat.
Lalu kamu pergi lagi, ya itu sudah biasa.


Kudengar dari banyak orang, kamu bukan musafir yang singgah sana singgah sini. Kamu bukan pengemis yang selalu meminta belas kasihan. Kamu bukan pula orang yang gegabah berkunjung kemana saja.
Aku terkejut atas opini orang-orang itu, mengingat dalam satu minggu pasti ada saja kamu berkunjung ke ruang tamu hatiku yang sederhana dan tak menarik. Mengapa? :')
Sejak itu aku mulai menyambutmu dengan sedikit lebih ramah dan bersahabat. Bukan hanya karna opini orang-orang, tapi keseringanmu berkunjung membuat hati tak lagi merasa asing. Kamu yang biasanya membawa tangan kosong, sesekali pun kamu membawa hidangan. Kami saling berbagi. Indah sekali.

Semakin lama, ku perkenalkan ruangan lain selain ruang tamu. Ruang tengah, ruang belakang... apa adanya.

"Sebenarnya beginilah keadaan ruang di hatiku. Kosong dan hampa, kusam dan kurang ceria"

"Dasar hati yang payah, tidak pernah jadi anak TK, tidakkah punya krayon atau pensil warna?"

"Hey bocah main-main, aku menyesal memperliahkan ruangan-ruanganku padamu. Terserah, memang beginilah keadaanya! Sana, pergi saja!!"

Benar sekali ia pergi. Hatiku kecewa, teramat kecewa. Di tengah tangisannya, seseorang masuk tanpa izin. Tentu siapa lagi yang paling tidak sopan selain bocah main-main itu.

"Aku membawa beberapa krayon, pensil warna, lampu, dan.. yaa.. barang barang yang ku punya pun tak kalah payah dengan ruangan kosong ini"

Dengan lancang kamu mewarnai setiap tembok yang kusam, memasang lampu warna warni di setiap sudut ruang hati yang gelap, membuat ruangan yang semula kosong ini menjadi lebih ceria.

Itulah sebabku menyukaimu. Kamu memang bertindak sesuka hati, datang dan pergi seenaknya, tapi setiap kamu kembali, selalu sukses membuatku tersenyum lebar. Kamu melakukannya dengan ringan, tanpa berlebihan, tanpa bunga, tanpa coklat, tanpa kata-kata manis.
Apa aku terlalu berlebihan menggambarkan sosokmu seperti yang kuceritakan diatas?
Biar kusimpulkan :

"Ia adalah manusia biasa, benar-benar biasa saja. Bukan seorang yang pandai berkata-kata, bukan seorang yang perhatian atau semacamnya. Bukan seorang pejuang yang memuja hatiku dan memperlakukanku seperti ratu. Sungguh ia sangat biasa saja. Tapi ia cerdas karna membuat hal yang biasa saja menjadi terasa sedikit berharga dan sulit dilupakan"

Maaf, tibalah suatu hari ku katakan maaf
Berkat tingkahmu, hatiku larut. Semula terasa menyenangkan, namun semakin lama mulai berlebihan. Hidangan yang biasanya terasa spesial, jadi hambar dan membosankan. Hatiku mencoba membuat inovasi, tapi kamu semakin terlihat bosan. Ruang kosong yang perlahan menyesakkan, terlalu banyak warna membuat pusing tak karuan. Hatiku terus memberi, sangat berlebihan. Rasa takut kehilangan menghasudku berbuat bodoh.
Kamu pergi sebentar, hatiku berlari mengejar, mencari. Kamu mulai merasa terbebani, terikat, sesak, tak bebas.
Kita sama sama kecewa. Rasa kecewa yang timbul dari rasa yang berlebihan. Mengapa kali ini kita bertingkah seperti pemburu dan tupai. Aku pemburu, kamu tupai.

***
Sampailah hatiku lelah mencari, sampailah hatimu lelah bersembunyi.
Hatiku pulang, dirimu pergi entah kemana sejauh apa.
Maafkan hatiku, ia begitu karna rasa takut kehilangan yang berlebihan. Ya, takut kehilanga yang bodoh dan gegabah. Maafkanlah meskipun kamu terlanjur memandangku sebagai pemburu. 
Maaf...


Juga suatu hari ku katakan terimakasih.
Kata terimakasih hanya bisa kita ucapkan saat kecewa benar-benar sirna. Benar-benar jernih tanpa sandiwara atau apa.

Terimakasih...

Terimakasih, bukan atas kesinggahanmu yang pernah terjadi begitu indah itu. Ku sadari semua itu bukan kebetulan, tapi Tuhan maha pembuat skenariolah yang sempurna menuliskan takdir kita pernah saling bertemu. Terimakasih ku ini atas pelajaran yang dapat ku ambil. Atas perasaan yang pernah ku rasakan. Atas pengalaman yang  melibatkanku jadi pemeran.
Kali ini, statusnya sama saja dengan yang lain. 
"Pengunjung yang pernah berkunjung"


Tapi sungguh peristiwanya berbeda. Kecewa, penyesalan, dan kenangan yang didapat adalah buah tangan yang berharga.
Terimakasih telah pergi tanpa membuatku ingin membenci. Terimakasih telah pergi tanpa membanting pintu. Terimakasih Tuhan maha pemberi petunjuk, ia adalah petujuk yang indah. Bersamanya adalah proses yang luar biasa. Ia bukan awal maupun akhir. Aku sadar semua itu hanyalah bagian dari proses hidupku saja.

Bolehkan aku berdo'a, suatu saat kita mengobrol lagi di ruang tamu hatiku. Entah hanya sebatas tamu, atau lebih dari itu..

Maaf dan terimakasih, aku lebih senang mengakhiri proses ini dengan dua kata itu. Dua kata yang tak boleh tercemar dendam, karna jika iya, gugurlah keduanya. Kedua kata itu. Sekali lagi, maaf dan terimakasih :)

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.