Dari Logika Rasa

20.17

Terima Kasih Hujan, karena Turun di Tanggal Satu
Oleh: Serli Zumar 

Maaf. Seharusnya tulisan ini sudah bisa kamu baca tidak lama sejak malam itu, usai percakapan dan pelukan terakhir kita sebelum kamu kembali ke kotamu.  Beberapa hari ini aku hanya ingin sedikit lebih memahami dengan baik semua hal yang telah kita lalui sejak pertama kali bertukar sapa. Aku yakin, tidak ada sesuatu pun yang dibiarkan terjadi tanpa alasan. Begitu juga kamu, yang pasti dihadirkan secara sengaja. Entah sekadar sebagai teman perjalanan yang selintas lalu, atau yang akan memberi arti lebih.

Diam-diam, mungkin ada yang memahami isi tulisan ini dan beberapa tulisan terakhir, yang muaranya selalu kamu. Ada juga yang kiranya sedang bertanya-tanya, kepada siapakah gerangan “kamu” dimaksud. Lalu ada yang menerka-nerka, apakah tulisan ini merupakan penggambaran fakta atau sekadar karangan semata.Tak apa. Biarlah mereka menemukan sendiri maknanya.


Kamu mungkin (sudah) bosan, karena setiap hari aku selalu mengganggumu dengan pesan-pesan pendek yang tidak begitu penting. Atau setiap kali telepon genggammu berdering, namaku yang tertera disana. Maaf. Di antara kita, mungkin aku yang paling enggan jauh. Karenanya aku harap kamu memaklumi.Ranah tempat kita berpijak memang terpisahkan lautan, dan cinta menjadi sesuatu yang cukup berat untuk dibicarakan. Tapi, setiap kali menatap matamu, aku tahu bahwa cinta tidak melulu harus berada di tempat yang sama. Ia begitu luas, dan meski bukan pada pandang yang pertama, setiap kali menatap matamu aku meyakini hadirnya.


Saat ini aku sedang mengijinkan egoku untuk memutar kembali semua ingatan tentang kamu. Tentang kebaikan yang kita lalui. Tentang kenangan yang kita buat. Aku bersyukur atas segala hal yang bisa kita bagi. Terima kasih, karena telah bersedia membuka ruang untuk separuh hatiku bersemayam padamu.Terkadang, aku juga bersyukur akan jarak yang membentang di antara kita. Sebab karenanya aku tidak pernah bosan untuk menanti. Juga karenanya aku selalu memiliki lebih banyak waktu untuk menjaga rinduku, sampai hari ketika tatap kita saling bertemu dan dekap akan menjadi lebih berarti.


Ah, ya, tadi siang hujan turun. Kamu pasti terkekeh melihat betapa senangnya aku sampai tersandung karena berlarian ingin menyaksikannya di luar sana. Aroma tanah yang begitu khas bekas diguyur air langit membuka fragmen tentang hari itu. Aku juga tidak akan lupa bagaimana hujan pernah mengakrabkan kita waktu itu.Hujan turun dan hari ini tanggal satu. Ini lucu, bukan?


Jakarta, 1 November 2015


***
Beberapa hari yang lalu saya lagi naksir sama instagramnya rachel amanda yang owner brownies amanda ituloh ? (bohong deng)
Bukan bukan, rachel amanda aurora lengkapnya, dia artis yang pernah main di sinetron si candy sama lucky hakim perdana. Orangnya ga alay seperti artis sinetron lainnya, terus suka berpuitis gitu.


Nah, tiba-tiba nemu postingan tentang "logika rasa" di IGnya. Dari situ saya coba searching logika rasa. Dan saya menemukan ini, juga beberapa tulisan lain yang saya suka, salah satunya ini. Ringan, tak seperti syair-syair sendu kalangan chairil anwar yang kadang saya ga ngerti sama kepuitisannya. Tapi tetep keren men!
Disini juga ternyata kita bisa berbagi tulisan karya kita. Yang minat berbagi karya, baca-baca atau cari referensi baper cuss aja ke www.logikarasa.com


Karna sendu bukan hal yang tabu, yang mesti dipandang serupa lawakan oleh orang-orang atas kesedihan kita yang mendalam. Maka bagaimana jika kita salurkan sendu sendu liar itu dalam sebuah tulisan yang mungkin takkan tersampaikan, semoga selalu menjadi rahasia yang mengagumkan untuk dikenang sendiri dalam sunyi. Nyesss~



You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.